Nuraksa Makodian

Nicholas Woon, co-founder dan direktur perusahaan teknologi Acuris Systems, memaparkan tentang operasi bisnisnya dalam mode startup dan rencananya untuk masa depan.Bisnis yang dijalankan oleh Matthew Warner dan Nicholas Woon diawali dengan mendirikan Acuris Systems, sebuah analytics and automation company yang berbasis di Auckland, pada akhir tahun 2016. Petani buah Kiwi di sana membuat keputusan penting yang berdampak pada kualitas hasil panen mereka dan pada akhirnya mempengaruhi hasil musim mereka di area besar kebun mereka, dari informasi yang terbentuk dari ukuran sampel kecil.

Sehingga Matthew Warner dan Nicholas Woon tergerak untuk menyediakan pemindaian populasi penuh yang dapat memberikan gambaran lengkap tentang tanaman mereka kepada petani dan memungkinkan mereka membuat keputusan berdasarkan data untuk mengoptimalkan hasil dan mengurangi risiko.

Cara Acuris system memindai Buah kiwi dengan menggunakan sistem robotik, untuk secara otonom menangkap data buah dalam jumlah besar dan kemudian memproses data ini untuk membentuk informasi kebun yang berkualitas tinggi dan akurat – semua dalam waktu yang tepat yang memberikan wawasan dan kekuatan kepada penumbuh untuk membuat keputusan dari kebenaran dasar yang pasti.

Latar belakang dan motivasi Matthew Warner dan Nicholas Woon dalam menggarap bisnis ini ialah, saat mereka berbicara dengan petani buah kiwi dan yang lain di industri ini, Matthew Warner dan Nicholas Woon menemukan ada masalah besar dalam jumlah data yang terbatas dalam metode tradisional untuk menangkapnya sehingga Matthew Warner dan Nicholas Woon memutuskan untuk mengubahnya.

Data kualitas adalah konsumsi pertanian presisi, dan disini Matthew Warner dan Nicholas Woon melihat tidak ada solusi yang tepat untuk mengumpulkan data dalam jumlah besar di pasar.

Lantas, untuk current status Acuris saat ini, Matthew Warner dan Nicholas Woon sedang dalam mode startup, pra-pendapatan. Matthew Warner dan Nicholas Woon sudah memiliki tiga perusahaan yang mendaftar pada pilot program yang mereka usung, yang akan diluncurkan pada pertengahan September tahun ini, guna melayani total 100 hektar.
Di Indonesia sendiri terkadang hasil bumi yang dapat dipanen antar daerah waktunya dapat berbeda, dapat lebih lambat atau lebih cepat. Seperti Panen jagung yang berbeda di daerah Lamongan dan Kediri. Beberapa petani berasumsi jika hasil bumi mereka baru dapat dipanen beberapa saat lebih lambat dari tempat lain pasti ada hama yang mengganggu hasil bumi tersebut, sehingga mereka mengalokasikan dana tambahan untuk membeli racun pembasmi hama.
Padahal, tidak selamanya itu semua karena hama, bisa dipengaruhi jenis tanah, berapa tunas yang ada di sebuah tanaman tersebut, kurangnya perairan, dan lain sebagainya.
Sehingga Produk alat pemindai ini merupakan jawaban dari atas segala keresahan petani untuk memberikan kejelasan secara science dan technology tentang keadaan kondisi tanaman, tidak semata-semata semua kualitas hasil bumi yang tak bagus karena hama.

Produk pemindai tanaman ini semakin cocok untuk diterapakan di pertanian Indonesia apabila dilengkapi dengan sensor tumbuhan yang terhubung langsung dengan saluran irigasi. Sehingga ketika alat pemindai mendeteksi bahwa Jagung di Kediri kekurangan zat hara, maka sensor tersebut memberikan signal pada sistem irigasi, dan secara otomati air dari saluran irigasi terbuka dan keluar secara otomatis untuk mengairi sawah, sehingga petani tak perlu repot-repot untuk merawat pertanian mereka.

Hal ini pun dapat digunakan untuk meningkatkan “kualitas hidup” petani-petani di Indonesia lainnya, karena dengan menyediakan data analitis mendalam dari area tanaman utama, seperti; jumlah dan kepadatan tunas / bunga, jumlah dan kerapatan buah, kualitas tanaman secara keseluruhan, deteksi dini penyakit, ramalan pertumbuhan tanaman dan kualitas menggunakan data dari tanaman sebelumnya.

Untuk kedepannya, mungkin dapat dikembangkan dengan sering dan berkala alat pemindai tersebut dalam menangkap hasil pemindaiannya dalam 3D dan memanfaatkan algoritme pembelajaran mesin, agar perangkat lunak dapat dengan dinamis mengidentifikasi titik data yang relevan dengan akurasi yang lebih besar. Ketika perangkat lunak beroperasi, ia akan melatih kembali jaringan syaraf dan dengan demikian akan dapat mempertanggungjawabkan perubahan pada tanaman.

Hal ini tentu dapat menjadi alat untuk menganalisis suatu kerja dari metabolisme dan keadaan tumbuhan. Sehingga kedepannya petani Indonesia dapat dengan akurat dan efisien dalam mengambil tindakan atau sebuah keputusan guna dapat mendapatkan hasil panen sesuai dengan yang direncanakan dan yang diharapkan.