Nuraksa Makodian

Di Asia tenggara, banyak sekali opportunities untuk terus tumbuh danberkembang khususnya pada infrastruktur juga mobilisasi tenaga kerja pada sektor ekonomi. Di sini Gojek khususnya GO Ride hadir. Namun, tak hanya sampai disitu saja, layanan nyata berbasis aplikasi ini kian  berkembang, awalnya hanya Go Ride menjadi meluas pada layanan Go Send, Go Mart, juga Go Food. Hal ini tentu sangat memudahkan penggunanya.

Tentu saja, Go Jek memang memiliki preciseable demand, namun dibalik itu semua, Go Jek memiliki sangat banyak sekali jumlah database yang mudah diakses. Beberapa bulan berselang sejak peluncuran layanan Go Send, Go Mart, Go Food, hadirlah 3 layanan baru dari Go Jek, yakni Go Glam, Go Clean, Go Massage yang hadir dengan berbagai sudut pandang dimensi yang saling berbeda. Lalu, seakan tak berhenti berinovasi, lahirlah layanan baru lagi. Go Blue Bird, Go Busway, Go Car, Go Kilat, juga Go Tix. Hal ini tentu menambah variasi layanan dalam hidup kita.

Crystal menjelaskan, konsep awal yang terpenting ialah, ia dan timnya harus terus bisa store the data, lalu berusaha menciptakan environment baru untuk data tersebut. Baginya, Bad data jauh lebih baikdaripada no data. Intinya accept the data dan figure out the standardization later.
Lalu seluruh data itu diterjemahkan dan dibuat data scale, lalu pumping seluruh datanya dalam suatu format, kadang data itu berupa data yang masih acak (unstructrured), tapi hal itu bukan masalah karena Go Jek memiliki memiliki order management system data , lokasi driver, dan lain sebagainya yang segala sistem dan berbagai fitur tersebut diatur dan dibuat dalam microservices.

Data tersebut jumlahnya sangat banyak yang diambil dari berbagai microservices, maka dari itu data tersebut harus diorganisasikan untuk dapat mengambil keputusan yang terbaik.

Mengorganisasikan data seperti mengatur data dalam lemari pakaian. Di mana kita tidak ingin memakai pakaian yang sama setiap hari, ingin bisa di mix and match, ingin bisa menggunakan different clothing item, dan tidak menggunakan the static outfit (pakaian yang itu-itu saja). Makadari itu, kita bisa mulai mengkategorisasikan outfit itu berdasarkan jenis pakaiannya, warnanya, atau berdasarkan tipe pakaiannya. Dan di sinilah, hal yang cukup sama terjadi dalam data Go Jek.

Selanjutnya dibuatlah north star matrix di mana orang-orang yang menggunakan data tersebut bisa lebih efisien dan efektif dalam mengeksplor datanya. Di mana north star matrix ialah matriks yang mencoba untuk menghubungkan secara a line antara data tersebut dengan goal dari Go Jek sendiri. Semakin mudah data diakses akan semakin meningkatkan aktifitas transaksi yang berhasil (completed transaction), di mana hal ini lah yang menguntungkan pihak Go Jek.

Dengan kekuatan BIG DATA ini, hal yang kita bisa ambil pelajaran ialah, semakin kita kreatif dalam mengatur juga mengolah data ini, semakin banyak kemudahan yang akan kita ciptakan bagi perusahaan maupun kehidupan orang lain.

Berkat Big Data yang diterapkan dalam Go Jek, hal ini mampu meningkatkan pendapatan tenaga kerja khusuhnya driver di Indonesia. Dan karena data itu tadi saling berhubungan antara satu data dgn yg lainnya sehingga sehingga bisa dieksplor lebih jauh lagi, maka hal ini memberikan manfaat sekaligus berupa keefektifan kegiatan ekonomi dalam suatu negara, contoh penjualan martabak di tahun 2015 karena ada sistem Go Food menghasilkan terjualnya 3000,000 martabak, di mana hal ini tentu menguntungkan para pengusaha lokal. Dan belum lagi keefektifan dan keefisienan waktu yang didapat karena Big Data, seseorang membutuhkan waktu 15 menit saja untuk berangkat (dalam kondisi yang padat) daripada menggunakan kendaraan pribadi mobil yang memakan waktu hinga lebih dari 45 menit.